July 17, 2024

Konfigurasi DHCP Server di Debian

3 min read

Duduk sendiri di laboratorium jaringan, nungguin downloadtan iso distro linux masih lama, Rsync masih belum kelar. iseng-iseng ngoprek lagi ajalah sambil bagi-bagi pengetahuan bagi yang ingin belajar. Kemarin membahas konfigurasi DNS Server konfigurasi pemasang IP address di distro debian. Kali ini saya coba berbagi pengetahuan bagaimana konfigurasi DHCP server, langsung saja kita ke terminal (konsole).

Untuk diketahui tools yang digunakan untuk membangun DHCP Server di debian yaitu isc-dhcp-server (debian versi 6 ke atas) kalau dhcp-server (debian versi 5 ke bawah). kali ini saya menggunakan debian 6 (squeeze). adapun tahap-tahap konfigurasinya antara lain :

  1. Proses install tools DHCP Server ( isc-dhcp-server)
  2. Konfigurasi file DHCP Server
  3. Restart service DHCP Server
  4. Pengujian DHCP di sisi client

Penjabaran tahap-tahapnya, antara lain :

Langkah 1

Install tools DHCP Server.

apt-get install isc-dhcp-server

linux1

Langkah 2

Proses konfigurasi DHCP Server.

Pada saat proses install isc-dhcp-server selesai maka status yang diberikan adalah FAILED, tapi hal ini tidak perlu dikhawatirkan hal tersebut muncul karena kita belum melakukan konfigurasi terhadap file dhcpd.conf. letak file dhcpd.conf tersebut terletak di dalam directory /etc/dhcp/. perlu di ingat bahwa setiap file service di install maka akan membuat satu direktory baru di dalam direktory /etc, intinya seluruh file configurasi seluruhnya tersimpan didalam directory /etc.

cd  /etc/dhcp/  &&  ls

 Pada gambar di bawah ini terlihat ada file dhcpd.conf

1. Install tools DHCP Server

dhcpserver

buka tanda pagar (#) pada bagian baris berikut yang ada pada dhcpd.conf

nano dhcpd.conf

ddns-update-style none;

option domain-name “example.com”;

 option domain-name-servers ns1.example.org, ns2.example.org;

default-lease-time 600;

max-lease-time 7200;

authoritative;

log-facility local7 ;

subnet 10.254.239.0 netmask 255.255.255.0 {

range 10.254.239.10  10.254.239.20;

option routers rtr.xxx.xxxx;

}

kemudian edit baris-baris tersebut ;

[sourcecode]
ddns-update-style none;
option domain-name "virtualhosting.com";
option domain-name-servers 10.0.2.5;
default-lease-time 600;
max-lease-time 7200;
authoritative;
log-facility local7 ;
subnet 10.0.2.0 netmask 255.255.255.0
range 10.0.2.15  10.0.2.30;
range 10.0.2.35  10.0.2.50;
option routers 10.0.2.2;
[/sourcecode]

Penjelasan :

  •  Option domain-name “virtualhosting.com”; = digunakan untuk memetakan nama domain yang anda miliki. example.com di ganti dengan nama domain anda. tidak diganti juga tidak masalah jika DHCP anda digunakan untuk client dimana sluruh client tidak di ijinkan untuk konek ke internet maka biarkan saja seperti defaultnya.
  •  Option domain-name-servers ns1.example.org, ns2.example.org;  = digunakan untuk memetakan alamat ip address dari DNS server yang anda miliki, contohnya di atas saya mempunyai DNS server yang beralamatkan 10.0.2.15, maka saya ganti ns1.example.org dan ns2.example.org menjadi alamat ip address saya sendiri. jika anda mempunyai 2 alamat ip address maka masukkan saja kedua-duanya dengan dipisahkan menggunakan tanda koma.
  • Subnet 10.254.239.0 netmask 255.255.255.0 { = digunakan untuk memetakan network id dan netmask. 10.254.239.0 diganti dengan network id anda sendiri. 255.255.255.0 diganti dengan netmask yang anda gunakan pada network anda sendiri.
  • Range 10.254.239.10  10.254.239.20;  = digunakan untuk mendistribusikan ip address ke client, berdasarkan ip address pada network anda sendiri yang mana yang ingin di distribusikan. jika hanya menggunakan sederet ip address saja yang di distribusikan maka gunakan 1 baris perintah ini saja, jika ada 2 deret ip address yang ingin di distribusikan maka ulangi 2x perintah ini dengan mengubah ip address yang ingin didistribusikan ke client.
  • Option routers 10.0.2.2;  = digunakan untuk memetakan ip address router/gateway yang anda miliki, jika tidak ada gateway maka di hapus saja perintah ini.

Sebenarnya perintah di atas bisa di kelompokkan menjadi satu, contoh yang saya gunakan saya kelompokkan menjadi satu dalam kurung kurawa ( { } , seperti pada gambar berikut ini.

dhcpserver2

simpan file config tersebut.

4. Nama aplikasi/tools yang digunakan untuk membangun suatu service server biasanya digunakan sebagai penamaan buat file daemon service yang ada di dalam direktory /etc/init.d. tools yang digunakan adalah isc-dhcp-server, maka pada saat melakukan restart, start dan stop service dhcp server sesudah init.d/nama tools, jadi penulisan lengkap perintahnya sebagai berikut :

/etc/init.d/isc-dhcp-server restart.

dhcpserver3

jika tidak ada error maka konfigurasi berhasil tinggal lakukan pengujian di sisi client baik itu windows, linux, unix dan apple semuanya bisa menerima ip dhcp asalkan dalam file konfigurasi ip address client di arahkan ke mode dhcp.

 5. Uji di sisi client

jika di linux tinggal direstart kartu jaringan tetapi pastikan terlebih dahulu di file konfig ip address ubah kata static menjadi dhcp. jika di windows posisikan konfigurasi ip address ke arah optin an ip automatically dan optain DNS Server address automatically.

6. Uji koneksi dengan cara ping ke ip-ip yang di distribusikan, ke DNS, ke router dan ke DHCP server. untuk meyakinkan bahwa semuanya bekerja dengan baik.

selamat mencoba

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright © All rights reserved. | Newsphere by AF themes.